Harga daging sapi di Pasuruan Raya melesat tajam tanpa kendali. Di tengah kelangkaan stok sapi lokal, pedagang dan masyarakat justru dihadapkan pada sikap pemerintah yang dinilai pasif dan abai. Persediaan hewan ternak yang terus menipis membuat harga daging sapi kian menjauh dari kata wajar, sementara beban ekonomi konsumen semakin berat.
Ketua Paguyuban Pedagang Daging se-Pasuruan Raya, H. Habibi, menegaskan bahwa lonjakan harga tidak hanya terjadi pada daging sapi lokal, tetapi juga sapi impor. Harga sapi hidup impor kini berada di kisaran Rp57.000 hingga Rp65.000 per kilogram, naik hingga Rp10.000 per kilogram dalam waktu singkat. Kenaikan ini, kata Habibi, langsung menghantam pedagang karena biaya modal membengkak, memaksa mereka menaikkan harga jual demi bertahan hidup.
Lebih keras lagi, Habibi meluapkan kekecewaannya terhadap sikap instansi terkait. Ia menilai Disperindag, Disnak, hingga dewan komisi justru saling melempar “bola panas” dan memilih aman di balik jabatan. “Disnak menyebut Pasuruan swasembada pangan. Data itu dari mana? Faktanya, pasokan daging masih bergantung pada impor,” tegasnya. Pernyataan tersebut dinilai jauh dari realitas lapangan yang dihadapi pedagang setiap hari.
Lonjakan harga juga terjadi pada sapi hidup. Sapi lokal naik Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor, sementara sapi impor dibanderol Rp20 juta hingga Rp25 juta per ekor, tergantung ukuran dan kualitas. Kondisi ini makin mempersempit ruang gerak pedagang sekaligus menekan konsumen, yang harus menanggung dampak berlapis dari hulu ke hilir.
Ketergantungan pasar pada sapi impor kian menyingkap rapuhnya tata kelola ketersediaan daging sapi. Habibi mengungkapkan, para penjaga sapi kini nyaris hanya mengandalkan sapi impor asal Australia jenis Brahman cross sebagai pilihan terakhir pemotongan. Ironisnya, harga sapi impor terus naik setiap hari, sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram. Informasi dari importir Jawa Barat bahkan menyebutkan harga sapi hidup impor berpotensi menembus Rp65.000 per kilogram di tingkat awal.
Dampaknya, harga timbangan sapi hidup di tingkat konsumen dikhawatirkan bisa melonjak hingga Rp150.000 per kilogram. “Apakah masyarakat akan mampu dengan daya beli setinggi itu?” ujar Habibi lantang. Ia menilai lonjakan ini tidak masuk akal jika dibebankan kepada masyarakat tanpa satu pun langkah intervensi nyata dari pemerintah.
Habibi menegaskan, mayoritas masyarakat Kabupaten Pasuruan berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. Dalam kondisi ekonomi saat ini, kenaikan harga daging sapi dikhawatirkan akan semakin menjauhkan masyarakat dari akses protein hewani, terlebih menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri saat kebutuhan pangan meningkat tajam.
Kekecewaan mendalam pun mencuat dari para pelaku usaha yang tergabung dalam paguyuban pedagang daging sapi. Mereka menilai tidak ada kepedulian serius maupun solusi konkret dari dinas terkait, baik di tingkat daerah hingga pusat. Selama ini, pedagang mengaku hanya menjadi penonton di tengah kebijakan yang tak kunjung hadir. Tanpa langkah tegas dan cepat dari pemerintah, krisis harga dan kelangkaan daging sapi dipastikan akan terus membebani masyarakat dan menggerus kepercayaan publik.