Kisah Petani Sukses dan Potensi Bisnis

Pasuruan. Siapa sangka, di tengah hamparan kebun agrowisata yang memukau di Kabupaten Pasuruan, tersembunyi sebuah fakta penting: Kecamatan Tutur adalah produsen paprika terbesar dan satu-satunya di seluruh Jawa Timur. Wilayah yang dijuluki surga agrowisata ini ternyata menjadi ladang subur bagi komoditas paprika, menjadikannya primadona yang mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi para petani lokal.

Salah satu saksi bisu kesuksesan ini adalah Eddy Sudarsono, seorang petani paprika yang berdomisili di Dusun Yitnan, Desa Tlogosari. Selama bertahun-tahun, Eddy telah mendedikasikan dirinya untuk merawat ribuan pohon paprika di dua green house miliknya. Kini, sekitar 4000 pohon paprika miliknya tengah berbuah lebat. Ada yang dipanen saat masih berwarna hijau segar, namun tak sedikit pula yang sabar menanti hingga matang sempurna berwarna merah merona atau kuning cerah.

Semua tergantung pangsa pasar. Yang mana yang paling banyak ya kita panen, " ujar Eddy dengan senyum khasnya di sela-sela kesibukan memanen paprika, Senin (12/1/2026). Ia menjelaskan bahwa dalam satu pohon, ia bisa mendapatkan hasil panen antara 3 hingga 5 kilogram paprika. Paprika hijau menjadi favorit panen karena permintaannya yang tinggi, meskipun harganya paling bersaing dibandingkan varietas merah atau kuning.

“Kalau yang hijau jualnya antara Rp 22 ribu sampai Rp 25 ribu. Kalau yang merah Rp 35 ribu per kilogram, dan kuning paling mahal sampai Rp 45 ribu, ” imbuhnya, memaparkan detail harga yang bervariasi.

Menariknya, paprika dari Tutur tidak hanya diminati pasar lokal. Jangkauannya bahkan telah sampai ke ibukota, Kalimantan, hingga Papua. Eddy mengungkapkan kegembiraannya karena paprika hasil kebunnya seringkali sudah dibeli langsung dari lokasi. “Tinggal dipanen, sudah ada yang datang untuk mengambilnya, ” katanya singkat, menggambarkan betapa tingginya permintaan.

Ketika ditanya mengenai omset, Eddy tidak ragu berbagi bahwa per bulannya, ia mampu meraup omset kotor hingga Rp 30 juta. Setelah dikurangi biaya operasional seperti tenaga kerja dan perawatan, keuntungan bersih yang ia kantongi rata-rata berkisar antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta

alhamdulillah, bisa untuk tabungan dan memperluas kebun, ” tegasnya, menunjukkan rasa syukurnya atas hasil jerih payahnya.

alhamdulillah, bisa untuk tabungan dan memperluas kebun, ” tegasnya, menunjukkan rasa syukurnya atas hasil jerih payahnya.

Sementara itu, Camat Tutur, Hendi Candra Wijaya, turut bangga dengan potensi wilayahnya. Ia mengungkapkan bahwa ratusan ribu tanaman paprika tumbuh subur di berbagai desa di Kecamatan Tutur, yang memiliki ketinggian sekitar 900 mdpl di lereng Gunung Bromo. Desa Tlogosari menjadi salah satu sentra utama budidaya paprika.

Hanya saja paling banyak ya di Desa Tlogosari, ” terangnya.

Dengan banyaknya petani yang bergelut di bidang ini, Hendi berharap budidaya paprika di Tutur terus berkembang pesat. Ia meyakini hal ini akan membawa kesejahteraan yang lebih baik bagi para petani dan seluruh masyarakat Kecamatan Tutur.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama