LEKOK,– Isu santet yang beredar di Desa Pasinan, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, memicu kerusuhan.
Rumah Mus, seorang pria berusia 80 tahun, dirusak oleh warga sekitar yang menuduhnya menyantet Amsori, tetangganya yang berusia 52 tahun.
Peristiwa tersebut terjadi setelah Amsori sakit selama tiga hari dan mengaku bermimpi didatangi Mus, yang kemudian dipercaya sebagai tanda bahwa ia disantet.
Aksi Massa yang Meluap
Perasaan tidak terima atas tuduhan santet, membuat keluarga Amsori, dipimpin oleh anaknya J, 35 tahun, berkumpul dan mendatangi rumah Mus pada minggu malam 01/03/2026 pukul 20.00.
Sejumlah kerabat datang dalam jumlah banyak, dan suasana semakin memanas ketika mereka menyerbu rumah Mus. Massa tersebut merusak beberapa perabotan rumah milik korban.
Mus, yang saat itu sedang tidur, langsung diseret keluar rumah oleh J, yang mendesaknya untuk pergi ke rumah Amsori. Meskipun istri Mus berusaha mencegah, J dan kerabatnya mengancam untuk tidak mengganggu.
Mus pun menurut, dan ia berangkat menuju rumah Amsori dengan sepeda motor, ditemani oleh anaknya, Ros, 40 tahun.
Kondisi Mencekam di Rumah Amsori
Sesampainya di rumah Amsori yang berjarak sekitar 2-3 kilometer dari rumah Mus, situasi semakin mencekam.
Massa yang semakin banyak mulai mendekati Mus dengan niat tidak baik. Ros, anak Mus, berusaha melindungi ayahnya dari serangan massa yang semakin agresif.
Beruntung, aparat Polsek Lekok segera tiba di lokasi dan berhasil mengamankan Mus, membawa pria lanjut usia tersebut untuk menghindari kekerasan lebih lanjut.
Keterkaitan Keluarga yang Terabaikan
Kejadian ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena Mus dan Amsori sebenarnya adalah tetangga dekat dan masih memiliki hubungan keluarga.
"Keduanya sebenarnya saudara," jelas Aipda Junaidi, Plt Kasi Humas Polres Pasuruan Kota. Meski keduanya memiliki hubungan darah, ketegangan yang dipicu oleh tuduhan santet membuat kedamaian desa itu terganggu.
Dampak Sosial dan Pembelajaran Penting
Peristiwa ini menyoroti betapa kuatnya pengaruh isu santet dalam masyarakat, bahkan di zaman modern.
Selain itu, kejadian ini juga mengingatkan akan pentingnya saling menghormati dan menghindari kekerasan sebagai jalan penyelesaian masalah.
Masyarakat diharapkan bisa lebih bijak dalam menyikapi masalah pribadi dan tidak membiarkan rumor atau mimpi mengarahkan tindakan yang merugikan banyak pihak.
Dalam kasus ini, ketegangan antarwarga yang melibatkan unsur keluarga menjadi pembelajaran penting tentang pentingnya dialog dan hukum sebagai jalan keluar terbaik. Aksi kekerasan bukanlah solusi untuk mengatasi perbedaan atau masalah yang ada dalam masyarakat.
Redaksi