PASURUAN — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan mendapat perhatian langsung dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Bersama Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, Khofifah turun ke lapangan untuk memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi.
Keduanya mendatangi Dusun Krajan Timur, Desa Karangjati, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Minggu (6/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah dan Rusdi turut membantu proses penyaluran air bersih ke sejumlah wadah penampungan yang telah disiapkan masyarakat.
Kedatangan dua kepala daerah itu sekitar pukul 14.00 WIB. Tidak hanya melihat kondisi warga, Khofifah dan Rusdi juga ikut dalam proses dropping air bersih sekaligus membagikan bantuan sembako kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Khofifah mengatakan, persoalan kekeringan saat ini menjadi perhatian serius karena sejumlah daerah di Jawa Timur telah menetapkan status kedaruratan. Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat 24 daerah di Jawa Timur yang telah mengeluarkan SK kedaruratan terkait kondisi tersebut.
Menurut Khofifah, distribusi air bersih menjadi langkah yang harus terus dilakukan selama masyarakat masih mengalami kesulitan mendapatkan sumber air. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah menyiapkan langkah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan.
“Sebetulnya kehadiran saya di sini tak lain untuk mensubtitusi program yang telah dilakukan Pak Bupati, sehingga kami hanya meluaskan sapaannya agar apa yang diberikan oleh pemerintah daerah dapat kami tambahkan demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan,” ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi persyaratan. Awan yang memiliki potensi kemudian dapat dimanfaatkan ketika bergerak menuju wilayah daratan yang membutuhkan hujan.
Namun, Khofifah mengingatkan bahwa OMC tidak dapat dilakukan tanpa memperhatikan kondisi alam.
“Ketika awan kemudian bergerak menuju daratan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan hujan di wilayah yang membutuhkan. Namun semuanya bergantung pada kondisi awan yang tersedia dan pergerakannya,” jelasnya.
Karena itu, menurut Khofifah, distribusi air bersih tetap menjadi prioritas selama sumber air masyarakat belum kembali normal.
Selain upaya teknis, Khofifah juga mengajak masyarakat melakukan ikhtiar keagamaan dengan melaksanakan Salat Istisqa.
“Kalau komunitas yang memungkinkan untuk bisa menyegerakan Salat Istisqa akan menjadi sangat baik, karena Salat Istisqa adalah ibadah untuk memohon kepada Allah agar segera menurunkan hujan,” katanya.
Khofifah menegaskan, bantuan air bersih dibutuhkan karena musim kemarau yang cukup panjang dan ekstrem mulai memberikan dampak terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
“Kita memberikan substitusi support supply air karena memang kekeringan yang terjadi pada musim kemarau yang cukup ekstrem dan panjang berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat,” tegasnya.
Pemkab Pasuruan Kirim Air Setiap Hari
Sementara itu, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menyampaikan bahwa saat ini terdapat delapan desa di Kabupaten Pasuruan yang masih menghadapi persoalan kekeringan.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terus melakukan dropping air bersih ke wilayah terdampak setiap hari.
Upaya tersebut tidak hanya berupa pengiriman air. Pemkab Pasuruan juga mulai menyiapkan infrastruktur penampungan air sebagai langkah antisipasi jangka panjang.
Sebanyak 13 desa yang dinilai berpotensi mengalami kekeringan telah dipasangi tandon air permanen. Wilayah tersebut tersebar di Kecamatan Winongan, Lumbang, Pasrepan, dan Kejayan.
“Dropping air bersih kami lakukan setiap hari. Selain itu kita juga bangun tandon-tandon air permanen dengan harapan bukan hanya digunakan pada saat musim kemarau saja, namun saat penghujan juga bisa,” kata Rusdi.
Rusdi menegaskan, penanganan kekeringan tidak boleh hanya berhenti pada bantuan sementara. Pemkab Pasuruan kini juga mencari solusi permanen agar persoalan kekurangan air bersih tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Langkah tersebut, lanjutnya, telah disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur untuk mendapat dukungan dari pemerintah provinsi.
“Selain solusi yang bersifat temporer, kami juga masih mencari solusi permanen biar tidak ada lagi kekeringan di Kabupaten Pasuruan. Sudah kami sampaikan ke Ibu Gubernur dan kami mohon bantuan dari pemprov Jatim agar tidak ada kekurangan air lagi di semua wilayah terdampak,” pungkasnya.
Kunjungan Khofifah bersama Rusdi Sutejo tersebut menjadi bentuk sinergi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dalam merespons dampak kekeringan. Di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan, pemenuhan kebutuhan air bersih warga menjadi perhatian utama sembari pemerintah menyiapkan langkah penanganan yang lebih permanen.